• home

Cara Menebak Siapa yang Kentut


Di suatu siang yang cerah, kamu baru aja balik makan siang sama temen-temen kamu. Terus kamu sekarang ceritanya lagi naek lift/mobil atau apapun pokoknya yang berupa ruangan sempit dan tertutup. Keadaan saat itu lagi menyenangkan. Kamu asik mengobrol dan bersenda gurau dengan teman-teman. Dunia rasanya indah sekali. Namun tiba-tiba….
Muncul bau busuk yang sangat memuakkan dan memualkan. Entah dari mana asalnya, tanpa suara, dan tanpa bentuk. Senyum di muka kamu dan teman-teman langsung terhapus dan tergantikan oleh dahi yang mengerenyit, mata yang memicing, dan napas yang ditahan. Semua diam tak ada yang bersuara, tak ada yang berkomentar, namun kalian semua tahu, bahwa salah satu dari kalian baru saja kentut.
Sebelum kalian saling menuduh, menunjukkan jari dan memaki yang akhirnya akan menghancurkan persahabatan kalian, mendingan baca dulu nih, MBDC bakal ngasi tau gimana caranya mengetahui siapa yang barusan kentut. Enjoy…

1. Analisa Bau

Hirup aroma kentut yang memenuhi udara sekitar kamu dalam-dalam, dan coba cerna, bau apakah itu ? Lalu ingat-ingatlah temen kamu tadi abis makan apa aja. Kentut orang yang abis makan pecel lele tentu beda dengan yang abis makan nasi padang. Apalagi yang abis makan ubi atau pete.
Cara analisa bau ini adalah cara yang paling ampuh, tapi juga paling susah. Ada beberapa orang yang memang terlahir dengan daya penciuman yang tajam, tapi kalo kamu cuma orang biasa jangan putus asa, kamu bisa berlatih dengan menganalisa kentut kamu sendiri, setelah makan makanan yang berbeda.

2. Puji Kentutnya

Siapa sih yang nggak seneng dipuji. Orang yang kalo dipuji trus malah marah juga sebenernya dalem hati seneng. Nah, pujian juga bisa jadi cara yang ampuh untuk mengetahui siapa yang kentut. Pujian buat kentut seseorang juga bermacam ragam, misalnya ada bau-bau comberan campur kecoa mati, trus kamu komentar aja:
"Eh siapa yang barusan nyemprot pewangi ruangan? Kok tau-tau bau mahogany lavender gini?"
atau..
"Ini parfum siapa nih tau-tau kecium? Baunya ngingetin gue ama kebun bunga pas gue liburan kemaren"
Dengan memuji kentut seseorang, dia pasti bakal merasa senang, dan mungkin bakal ngaku. Kalo nggak ngaku sekalipun, pasti dia bakal senyum-senyum sendiri, sumringah gitu gara-gara kentutnya dipuji. Terus kamu bisa tau sendiri siapa yang kentut.
Cara ini sebaiknya jangan sering-sering dilakuin, karena bisa jadi yang kentut malah kegeeran, terus dia malah kentut terus-terusan.

3. Interogasi

Pasti diantara temen-temen kamu, ada yang terkenal jorok dan yang udah-udah sih kalo ada kasus kentut-lari (kentut terus kabur nggak ngaku -red) biasanya dia tersangka utama atau terdakwanya. Kamu coba aja interogasi temen-temen kamu, sok-sok detektif gitu. Tanyain apakah mereka abis makan sesuatu yang bikin lambung penuh gas, atau ada yang emang lagi masuk angin. Coba inget-inget kejadian yang terjadi sampai keluarnya kentut tersebut, ada yang tiba-tiba diam dan merubah posisi pantat atau enggak. Apakah temen-temen kamu punya alibi yang bisa dipertanggung jawabkan. Apakah temen kamu punya motif untuk kentut, dan sebagainya.
Banyak variasi dari cara interogasi ini. Kamu bisa coba cara good cop bad cop dengan temen kamu yang kamu percaya banget bukanlah oknum yang kentut. Ato kamu juga bisa fokusin interogasi sama satu orang, dan kamu galakin dia sampe nangis-nangis gitu, nanti yang kentut akhirnya merasa iba dan ngaku karena nggak tega. Gitu deh.

4. Pura-Pura Pingsan

Jelas lah ya. Kamu pura-pura pingsan aja gitu gara-gara saking baunya itu kentut. Terus nanti yang kentut bakal ngerasa bersalah dan ngaku. Lebih seru lagi kalo kejadian kentutnya di mobil, dan kamu yang nyetir. Nanti kamu pura-purang pingsan dan akhirnya kecelakaan. Terus nanti bisa adegan dramatis a la sinetron gitu "GARA-GARA KENTUT LO, KITA SEMUA KECELAKAAN !" Wuih. Seru kan.
Nah, sekarang udah tau kan cara nebak siapa yang kentut. Sekarang terserah kamu, mau diapain tuh yang kentut sembarangan. Dan kalo ada cara-cara ampuh juga, dishare juga ya..

Indonesia Kekurangan Ahli Jantung!


Penyakit jantung koroner merupakan pembunuh nomor satu menggantikan posisi infeksi. Ironisnya, jumlah tenaga dokter jantung atau ahli jantung di Indonesia minim.

Hal itu diutarakan Ketua Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI Prof Dr Ganesja Harimurti, SpJP, dalam acara dalam acara 'Serah Terima Sertifikat Akreditasi PS Ilmu Penyakit Jantung & Pembuluh Darah Departemen Kardiologi & Kedokteran Vaskular FKUI / PJNHK & Peresmian Patung alm. dr. Sukaman, SpPD, SpJP, salah satu Perintis Kardiologi Indonesia', di RSJPD Harapan Kita, Senin (23/4).

Ganesja menjelaskan, selama 36 tahun, Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI telah melahirkan 361 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP).

Padahal, di Indonesia baru mempunyai 555 dokter spesialis jantung. Angka ini masih sangat kurang memadai jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 240 juta jiwa.

“Idealnya, satu dokter jantung bisa menangani 260 ribu jiwa. Padahal penyakit jantung sekarang ini menjadi pembunuh utama, menggeser kematian akibat infeksi,” jelas Ganesja.

Sementara itu, Direktur Utama Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr Hananto Andriantoro, Sp.JP menambahkan ada tiga komponen penting dalam mencetak dokter, yaitu kualitas kurikulum, kualitas staf pengajar, dan kualitas tempat pendidikannya.

“RS Jantung Harapan Kita menjadi pusat jantung nasional sekaligus sebagai rumah sakit pendidikan. Sebentar lagi juga akan diakreditasi Internasional. Fakultas Kedokteran yang mendapat akreditasi A akan menghasilkan dokter yang ahli, RS yang diakreditasi JCI akan lebih dipercaya,” tambah Hananto.

Menurutnya, RS yang mendapat akreditasi dari Joint Commission International (JCI) akan lebih dipercaya. Para penjamin dana masyarakat seperti asuransi membutuhkan jaminan dan merasa yakin kliennya mendapat pelayanan yang paling baik di rumah sakit.

“Jadi JCI menjadi jaminan kepercayaan. Mahasiswa kardiologi juga mendapat tempat yang baik untuk pendidikannya, Jadilah, rumah sakit ini, home sweet home bagi para kardiolog,” ungkapnya.

"Dan perkembangan kardiologi dan pembuluh darah di Indonesia menjadi tanggung jawab banyak komponen antara lain, rumah sakit, Departemen Kardiologo dan Kedokteran Vaskular, Perhimpunan Ahli Kardiologi Indonesia (Perki), dan Yayasan Jantung Indonesia," pungkasnya. 


sumber

Justin Bieber: Indonesia, I See You, I Love U



Secara harfiah, random memiliki definisi "acak" dan oleh penutur Inggris digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu yang tidak memiliki signifikansi atau "tidak jelas".
Bieber mengeluarkan pernyataan itu saat peluncuran album barunya di London, Inggris, pekan lalu dan langsung mendapat reaksi keras di Indonesia, termasuk kecaman hingga aksi boikot lagu-lagu Bieber di radio.

Beberapa saat lalu, penyanyi berusia 18 tahun itu akhirnya menyikapi isu tersebut di akun Twitter-nya.

"one rumor i wont stand for is saying what me and my fans have isnt real. Indonesia I see you. i love u. I love ALL MY FANS. (gosip yang tidak bisa aku biarkan adalah bahwa apa yang aku dan para penggemarku miliki bukan hal yang sejati. Indonesia aku lihat kamu. aku cinta kamu. aku cinta SEMUA PENGGEMARKU)," tulis Bieber.

April tahun lalu, Justin Bieber sempat menggelar konser di Sentul, Bogor. Konsernya sendiri berjalan cukup sukses.

Dalam kesempatannya di Indonesia, ia merekam sebuah single berjudul  "Be Alright" untuk album barunya, tetapi ternyata proses rekaman itu tidak berjalan seperti yang diinginkannya.

"Saya berada di satu negara yang random," kata Bieber kepada Reggie Yates dari The Voice UK, seperti dilansir harian Mirror. Manajernya, Scott "Scooter" Braun, menyela dan mengatakan, "Indonesia."

"Saya merekamnya di sebuah studio," lanjut Bieber. "Tempatnya kecil. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan."

Sebuah radio anak muda di Medan, Sumatera Utara, Kiss 105 FM memboikot lagu-lagu Bieber.

Televisi setempat hari ini menyiarkan gambar sekelompok Belieber yang menghapus file lagu-lagu Bieber dari telepon seluler dan tidak lagi mengikutinya di Twitter.

Namun, bagi sebagian besar Belieber di Indonesia, klarifikasi sang idola cukup untuk menenangkan mereka.

Mereka mengucapkan terima kasih atas penjelasan itu dan meminta agar orang-orang berhenti menghujat Bieber.


sumber

Hardiknas: Potret Buram Pendidikan Nasional


Bagi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global, pendidikan merupakan kunci utamanya. Pendidikan adalah tugas negara yang paling penting dan sangat strategis. Sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang baik. Sebaliknya sumberdaya manusia yang buruk, akan secara pasti melahirkan masyarakat yang buruk pula.

Untuk mengantar kepada visi pendidikan yang demikian, dan melihat realitas pendidikan di negeri ini masih sangat jauh dari harapan . Bahkan, jauh tertinggal dari negara – negara lain. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari tiga hal : Pertama, paradigma pendidikan nasional yang sangat sekuler dan materialistik sehingga tidak menghasilkan manusia yang berkualitas utuh, lahir dan batin. Kedua, semakin mahalnya biaya pendidikan dari tahun ke tahun. Ketiga, rendahnya kualitas SDM yang dihasilkan untuk bersaing secara global.

Sistem pendidikan yang sekuler materialistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sebuah sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang juga sekuler dan materialistik. Memang, dalam sistem sekuler materialistik itu, yang namanya pandangan, aturan, dan nilai – nilai Islam tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, terutama dalam pendidikan ini. Karena itu, di tengah-tengah sistem sekuleristik lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama dan segala akibat-akibatnya yang menimpa bangsa dan negara ini. 

Paradigma Pendidikan Nasional

Dalam UU Sisdiknas N0. 20 Tahun 2003 tampak jelas adanya dikotomi pendidikan agama dan umum yang bisa melahirkan pendidikan sekuler materialistik. Padahal sistem pendidikan yang dikotomis semacam ini telah terbukti gagal melahirkan manusia utuh (soleh) yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan dan perkembangan penguasaan sains dan teknologi.

Dari sistem pendidikan ini, terdapat kesan yang kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu (iptek) yang dilakukan Depdiknas dipandang sebagai tidak berhubungan dengan Agama (Islam). Sementara pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan, justeru kurang tergarap secara serius. Kurikulum Agama (Islam) hanya ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimalis dan bukan menjadi dasar utama dari seluruh aspek kehidupan.

Ini artinya, sangat jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai tujuan pendidikan nasional itu sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Karena itu, pendidikan yang sekuler materialistik ini memang bias melahirkan orang yang menguasai sains teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Namun, pendidikan semacam ini terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan pengetahuan keislaman. Betapa banyaknya lulusan pendidikan umum yang tetap saja “buta agama” dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, yang belajar dalam lingkungan pendidikan agama memang menguasai pengetahuan keislaman dan secara relatif kepribadiannya tergarap dengan baik, tetapi disisi lain terkesan buta terhadap ilmu-ilmu kehidupan modern.

Apa yang terjadi selanjutnya? Sektor-sektor kehidupan modern seperti industri manufaktur, perdagangan, jasa, eksplorasi SDA, perbankan, dan lain-lain lebih banyak diisi oleh orang-orang yang mengerti pengetahuan Islam lebih banyak berkumpul di dunianya, seperti madrasah, dosen/guru agama, Depag, dan pada umumnya tidak mampu bersaing dan terjun pada sector-sektor modern. Dan ujung-ujungnya, merebaknya wabah korupsi di negeri ini karena akibat keterbelahan sistem pendidikan ini, termasuk berbagai penyakit sosial lainnya. Hal ini telah kita rasakan sampai saat ini. 

Biaya Pendidikan Mahal Selangit

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini yang sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh masyarakat agar anaknya dapat menikmati pendidikan. Hal ini dapat terlihat dari Taman Kanak – Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT) yang membuat masyarakat miskin tidak memiliki kesempatan yang sama dengan kaum the haves (golongan kaya). Tentu tidak ada pilihan lain, kecuali putus sekolah.

Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pendidikan sebagai pelayanan publik, tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35 – 40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong terjadinya privatisasi pendidikan. Apa akibatnya? Sekitar yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban pertama. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5-2005). Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan, utang pemerintah Indonesia periode Januari – Agustus 2010 tercatat sebesar Rp. 1. 654,9 triliun (media umat, edisi 48 3-23/12/2010). Artinya, jerat utang ini akan terus menjadi bagian dalam mengisi APBN, walaupun negeri ini berlimpah kekayaan alamnya. Dan tentu saja, dana pendidikan akan tetap terjerumus dengan utang yang besar itu.

Karena itu, jika alasannya pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya bertolak di Indonesia. Di luar negeri, misalnya Jerman, Perancis, Belanda dan dibeberapa Negara berkembang lainnya, justru banyak sekolah/perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah, bahkan ada yang gratiskan biaya pendidikannya.

Pendidikan yang berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Kewajiban pemerintahlah atas nama Negara untuk menjamin setiap warga negaranya untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Ini vidi ideal pemerintahan dari segala strukturnya untuk mewujudkan peradaban yang memanusiakan dari sadar akan eksistensinya di muka bumi ini sebagai hamba Tuhan. 

Ancaman Komersialisasi

Orang miskin dilarang sekolah! Dari tahun ketahun, tidak lama lagi, mungkin itu yang akan terjadi di Indonesia. Pasalnya sekolah semakin mahal. Untuk masuk TK sampai perguruan tinggi, apalagi unggulan, SBI, orang tua bisa menghabiskan jutaan sampai miliyaran rupiah. Memang, ada yang murah tetapi jangan ditanya kualitasnya, tentu apa adanya. Secara jujur, inilah yang disebut diskriminasi dalam dunia pendidikan kita. Kalau punya uang banyak, pasti bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dan sebaliknya, kalau terbatas dananya harus pasrah dengan kualitas pendidikan yang menyedihkan. Kenapa? Karena seharusnya pendidikan yang berkualitas harus berlaku sama bagi siapa saja yang punya uang atau tidak. Sebab pendidikan yang berkualitas merupakan asset negara yang bukan milik orang kaya.

Sebenarnya inilah yang disebut pengapdosian kebijakan kapitalis dalam dunia pendidikan memang semakin menguat. Memang dalam sitem kapitalis, peran negara diminimalisasi, negara hanya sebagai regulator. Peran swasta pun dioptimalkan. Muncullah istilah-istilah “luhur” yang sebenarnya menimpa yaitu otonomi sekolah, otonomi kampus, dewan sekolah yang intinya negara lepas tangan terhadap dunia pendidikan. Lagi-lagi yang muncul adalah masalah pendanaan, sehingga harus banting tulang untuk mencari sumber pendanaan mulai dari buka bisnis sampai ujung-ujungnya menaikkan biaya pendidikan. Hasilnya, pendidikan benar-benar dikomersialisasikan melalui sumber dana masyarakat non – SPP yang itemnya bertumpuk. 

Intervensi Asing

Meningkatnya kapitalisasi pendidikan di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonialisasi. Sejak awal memang penjajah telah memformat sistem pendidikan menjadi sistem kapitalisme yang siap mengabdi kepada tuannya. Artinya, meskipun Indonesia sudah merdeka, tetapi subtansi sistem pendidikan yang sekuler materialistik yang dijalankan oleh para pemimpin yang memang dididik oleh mereka-mereka untuk mengalahkan imperialisme gaya baru.

Selanjutnya, kebijakan-kebijakan kapitalistik akan muncul subur dan tidak bisa dilepaskan dari peran intelektual yang dididik oleh “Barat” masih mencengkeram kuat negeri ini. Seperti persaingan institusi-institusi pendidikan Indonesia dengan institusi asing. Dalam hal ini, sangat jelas bahwa Indonesia masih di bawah asing. Artinya, intervensi ini terjadi melalui sistem negara yang sekuler dan para intelektualnya.

Nah, asing biasa masuk melalui beberapa jalan seperti memberikan bantuan, pinjaman, beasiswa, hibah, penelitian, dan lain-lain. Berbagai pinjaman itu dikucurkan agar kebijakan perguruan tinggi tersebut dapat tunduk di bawah tekanan dan asing yang kelak para alumni AS ini akan menjadi “diplomat” yang notabene pelanjut imperialisme baru.

Di Indonesia, jargon “pendidikan untuk semua” sering dilantunkan. Namun dibawah sistem demokrasi ini sering “dibajak” oleh pemilik modal, termasuk pemodal asing. UU Pendidikan yang dibuat sering malah berpihak kepada pendidikan mereka dan bukan pada rakyat banyak. Itulah sistem pendidikan dalam cengkeraman kapitalisme. 


sumber

Jejaring Sosial Buatan Indonesia Untuk Pelajar


Namanya, Studentbook. Secara singkat, boleh dibilang inilah 'Facebook' untuk para pelajar. Yang menarik, situs jejaring sosial ini tidak hanya melayani para pelajar, tetapi juga menghubungkan orangtua murid dan gurunya sekaligus.

Asyiknya lagi, sistem Studentbook ini dilengkapi dengan SMS notifikasi perkembangan akademik siswa kepada orang tua masing-masing yang dikirim setiap hari melalui telepon selular mereka. Keuntungan dari SMS notifikasi ini adalah orang tua bisa memantau secara penuh perkembangan akademik anaknya di sekolah.

Melalui SMS notifikasi ini orang tua selalu mendapatkan up-date harian tentang absensi siswa (setiap jam pelajaran), tugas-tugas (PR) yang diberikan, materi-materi yang sudah diajarkan, pelajaran yang perlu disiapkan, saran dari guru, dan pengumuman-pengumuman resmi dari sekolah.

‘’Dengan demikian, orang tua memiliki kontrol penuh atas perkembangan akademik anaknya di sekolah. Melalui studentbook, kami berusaha menjembatani internet sehat bagi para siswa,’’ ujar Asykuri ibn Chamim, salah satu penggagas Studentbook.

Untuk orangtua, selain komunikasi, lewat situs ini juga bisa mengontrol nilai dan pekerjaan rumah anak. Ini karena tersedia menu berupa surat ke siswa, surat ke guru, cek nilai siswa dan cek tugas siswa.

Bagi sang guru, situs ini menyediakan akses untuk memberikan PR, memberi nilai, komunikasi efektif dengan siswa, orangtua siswa, dan antara guru yang bisa berasal dari satu sekolah atau bahkan sekolah lain.

Sedangkan untuk si pelajar sendiri, Studentbook berguna untuk melihat dan mengirimkan PR, mendapatkan nilai dari guru, bergaul sesama siswa, diskusi kelompok, sampai berdiskusi dengan orangtua. Dengan fitur atau menu yang mirip Facebook, pelajar bisa nyaman membahas segala urusan sekolah dengan cara yang lebih nyaman. 


sumber

Titanic Dulu & Sekarang

Nilai Berharga Yang Tersembunyi


Seorang pria bertanya kepada seorang jutawan, bagaimana cara dia bisa menjual banyak barang dan kemudian menjadi kaya. Sang jutawan kemudian memberikan sebongkah batu kepada pria itu.

“Pergi dan juallah batu ini. Engkau akan tahu mengapa aku jadi kaya”.

Sang pria pun pergi dengan wajah kebingungan. Setiap kali dia menawarkan batu itu, tak seorang pun membelinya. Beberapa orang bahkan menertawakannya. “Sepeser pun tak akan saya keluarkan untuk batu itu,” cibir mereka.

Akhirnya, dalam keputusasaan pria itu kembali menemui sang jutawan. “Bagaimana Anda bisa kaya jika hanya menjual sebongkah batu yang tak berharga ini?” tanyanya. Sang jutawan pun menyuruhnya pergi ke sebuah toko emas.

Ketika dia menawarkan batu itu, sang pemilik toko emas berkata,
“Luar biasa sekali batu ini, mengandung kadar emas yang besar.”
“Berapa Anda mau membeli batu ini?”
“Seratus juta Rupiah!”

Pria penasaran itu terkaget-kaget. Tak ada seorang pun mau membeli batu itu, tapi pemilik toko emas malah menawarnya dengan harga selangit.

Sang jutawan pun berkata, “Anda tak pernah tahu kapan Anda menyadari bahwa apa yang Anda jual adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Anda jika Anda tidak menawarkannya kepada orang lain.”


sumber
Diberdayakan oleh Blogger.